25 September 2008/Kamis
Eh e-mail Mark tiba hari ini!!! Surprise banget deh …
Katanya dia terus memikirkan tentang peristiwa yang terjadi diantara kami, tepatnya beberapa hari sebelum dia kembali ke Inggris. Pada saat membaca bagian ini, aku langsung nahan napas. Apa kelanjutannya ini? Apa dia akan mengatakan, “Aku sudah memikirkan dan mempertimbangkan masak-masak dan aku akhirnya mengambil keputusan bahwa aku tidak bisa melanjutkan hubungan ini!?”
Tapi ternyata bukan itu kelanjutannya. Dia malah membenarkan perbuatanku itu.
Memukulnya dengan helm? Menamparnya di Starbucks? Trus ditangkap ama Security Mall n’ dilepasin setelah polisi datang????
Menurutnya peristiwa itu sudah banyak membuatnya sadar dan benar-benar mengerti apa yang kuinginkan, yang kusuka dan tidak kusuka.
Ya ampun, aku salah kaprah selama ini. Kupikir kalo aku berbicara baik-baik agar tidak menyinggung perasaannya, itu akan membuatnya mengerti. Ternyata harus dengan system militer tho’?
Sepertinya sih dia udah dapat pekerjaan, soalnya dia nulis gini, “Maaf aku agak terlambat memberi kabar, soalnya aku sibuk banget”. Uhm,,, sibuk kerja atau sibuk cari kerja? (wkwkwkw!) Moga-moga opsion yang pertama, amin…!!
Sekarang udah lupa deh ama kekecewaan yang kemarin, soal Guru sialan itu!
Persetan dah ama www satu ini, pokoke aku nggak percaya lagi ama kaum www.
Makan tuh duit… Rejeki ku bukan sampe disitu aja….Wek!
Yang penting Mark baik-baik saja disana, itu sudah cukup buatku.
Barusan tadi aku melirik kembali isi surat terakhir yang ditulis Richard. Aku baru nyimak kalo dia ada nulis gini, “Nanti kalo aku datang ke Lokasi dan mau ke Lake T, aku akan menghubungimu. Maka dari itu kita harus tetap saling kontak”
Maksudnya apa? Mengajakku travel ke pulau berpenduduk rakus itu lagi? Ta’ u’u’ ya!
Apa dia mengira aku lebih pantas disitu ketimbang ke China? Enak aja.
Apa mesti kujelaskan sama dia bahwa bandrol-ku udah naik? Tiket bus udah nggak laku lagi, Pak!
Lake T, emang apaan ?!
Padahal semalam aku sempat berpikir gini, “Kalo Guruku aja udah nggak bisa dipercaya, kenapa aku harus meyakinkan pada dunia bahwa aku bisa dipercaya? Kenapa nggak sekalian kutaklukkan aja semuanya dengan cara yang sangat licik?”
Richard itu kikir, ketulusan hati tidak akan membuat perasaannya tergugah dan membuatnya berubah menjadi seorang dermawan, makanya aku berencana untuk mengatur siasat untuk mengakali dia, menurutku dia pantas untuk diberi pelajaran. Tiket ke Beijing, apa nggak menggiurkan tuh? Aku sudah mengatur segalanya dengan sempurna.
Bersamaan dengan masuknya surat Mark di inbox-ku, membuatku meninjau kembali rencanaku.
Setelah kupikir-pikir lagi, buat apa?! Aku kenal betul Richard, apa yang ada dalam otaknya, omong kosongnya dan juga ketamakannya. Aku bahkan mempertimbangkan kembali kisah tragisnya dengan gadis Bandung itu. Siapa tau putusnya mereka bukan karena gadis itu telah menipu dia, melainkan Richard-lah yang sudah menipunya?
Kantong Richard nggak bakalan koyak! Kecuali perempuan itu mengandalkan dukun untuk menguras uang Richard, maka lainlah ceritanya. Kalo hanya bermodalkan hati dan ketulusan cinta, bullshit !!!
Mungkin saja begini, Richard menjanjikan untuk mengundang gadis itu ke Inggris tapi ketika tiba pada masalah ‘uang pengurusan’, Richard menolak. Maklum, dia kan kikir…. Tapi, mungkin juga apa yang diceritakan Richard itu betul, yah … Mungkin dia lagi apes!
Sekarang aku berpikiran berbalik. Aku berniat untuk menghilang dulu dari kehidupannya, menunda membalas surat-suratnya. Soalnya dilanjutkan juga nggak ada guna, toh aku nggak akan mau mengorbankan hubunganku dengan Mark hanya karena si uban ini. Lagipula dia nggak berarti apa-apa lagi di mataku sejak dia tidak ada untuk membantuku waktu itu. Apalagi sejak aku tau bahwa dia hanya membatasi travelingku sampe Lake T, enak aja! Makan tuh Lake T.
Hati-hati sama Richard, ntar kalo dia mati, kamu bakalan bernasib sama seperti kartun di atas!!!:






