Setelah mendapat kabar buruk kemarin pagi, aku langsung menghubungi beberapa teman via imel dan menceritakan apa yang telah menimpaku. Pada Steven yang konon katanya baru selesai ngelakuin perjalanan sepeda keliling budhapest-nya aku menjelaskan segala hal secara mendetail, nggak ada yang ditutup-tutupin. Lain hal-nya ketika aku berkeluh-kesah pada Richard, kesannya malah “curhat” tapi tetap “rahasia” gitu. Maksudnya, aku bilang ke dia bahwa aku sedih banget, terpukul dengan kejadian ini, tapi apa tepatnya yang sudah/sedang terjadi malah nggak kujelasin, aku cuma bilang bahwa aku belum siap menceritakannya sekarang. Apa karena aku kurang yakin ke dia atau memang sebenarnya dia tidak layak untuk mengetahui ini? Nah lantas, kenapa aku cerita ????
Pagi ini rentetan imel masuk ke inbox-ku, semuanya dari teman-teman yang kukontak kemarin. Sambutannya macam-macam, ada yang kaget sambil nanya “Masa sih?”, ada juga yang dengan bangga membenarkan ucapannya, “Tuh, dulu kan udah dibilangin …..”, sebagian ada juga yang mengutuk habis-habisan pihak yang telah mengacaukan proses kehidupanku menuju bahagia, “Dasar tidak tau diri tuh orang! Mosok skill kamu nggak di’anggep’ sih?” (Ini mah menurutku bukan nyemangatin, justru manas-manasin!), ada juga yang memberikan semangat dan dorongan dengan membandingkan keadan yang pernah menimpanya dengan apa yang sedang kualami sekarang, “Yah, kamu masih mending, inget-inget deh apa yang terjadi dulu amaku, jauh lebih parah dari yang kamu alami sekarang. Kamu sedih, aku lebih dari itu! (Yah, kok jadi pamer permasalahan dan kesedihan ya?) Tapi harus kuakui, imel dari Steve, yang justru membuatku terpingkal-pingkal, benar-benar terhibur.
Steve mampu menghibur perasaanku dengan menyelipkan kata-kata bijaksana diantara guyonan yang ditulisnya dan aku baru menyadari bahwa itulah yang kubutuhkan. Bahwa pada saat seperti sekarang ini, aku ingin benar-benar tertawa dan terhibur, bukannya mendengar nasihat dan ucapan-ucapan simpatik yang semuanya terdengar kaku dan omong kosong, apalagi ketika mendengar beberapa dari teman yang seolah membenarkan apa yang pernah diucapkannya dengan menjadikan kasus yang menimpaku sebagai contoh, bukan itu yang kubutuhkan.
Aku yakin, yang lain juga pasti mengharapkan hal yang sama, bahwa pada saat kita kesusahan, yang kita butuhkan adalah seseorang yang benar-benar bisa memberikan semangat dengan cara yang benar-benar ‘alami’, tidak perlu berpatokan pada konteks kata-kata bijaksana yang nadanya dari dulu sampai sekarang tidak ada berubah. Membosankan….
Apalagi kalo ada tambahan kata-kata seperti ini, “Dulu kan udah dibilang……”
Emang bener, pada saat kita ditimpa permalasahan, kita bisa melihat siapa yang benar-benar bisa dijadikan sahabat. Nah apa aku bisa melihat siapa yang benar-benar SAHABAT sekarang? Tentu saja …
Aku tidak menyalahkan teman-teman yang tidak tahu harus berkata apa selain mengeluarkan kata-kata bijaksana campur menyalahkanku itu, atau teman-teman yang justru kaget dengan apa yang kualami atau yang no comment sama sekali.
Ini bukan uji tes “What A Friends Are For”, tapi aku melakukannya secara spontan, menghubungi teman-teman dan bercerita pada mereka.
Ada yang berkomentar, “Masih banyak hari yang harus dijalani”, ya aku mengerti. Karena hari tidak pernah sama. Kata-kata yang singkat namun memiliki banyak makna. Jauh lebih adem kedengaran daripada “Tuh dibilangin juga apa, ……”
Yah begitulah, hari ini aku merasa agak baikan. Nggak se-down kemaren.
Sejak itu aku jadi lebih banyak intropeksi, walau bagaimanapun, seperti yang kukatakan, aku tidak menyalahkan teman-teman yang memberi tanggapan mengecewakan. Setidaknya, semua yang mereka ucapakan, walaupun pedas ditelinga, tapi ada benarnya. Intinya bahwa aku harus lebih banyak mendengar, mempertimbangkan dan tidak hanya mempercayai apa yang kulihat. Yah … Mngkin seharusnya begitu.
